Asesmen Diagnostik Kognitif dan Non Kognitif: Cara Menyusun, Membaca, dan Menindaklanjuti Hasilnya
Pada minggu pertama semester, guru kelas tiga biasanya sudah punya dugaan tentang siapa yang akan mengikuti pelajaran dengan lancar dan siapa yang akan berhenti di tengah soal cerita. Dugaan itu sering tepat, tetapi belum cukup untuk menyusun kegiatan Senin depan. Asesmen diagnostik mengubah dugaan menjadi keterangan: anak ini sudah bisa apa, belum bisa apa, dan bantuan seperti apa yang masuk akal diberikan lebih dulu.
Ada dua sisi yang diperiksa. Sisi kognitif melihat pengetahuan dan keterampilan prasyarat, misalnya apakah anak sudah memahami nilai tempat sebelum diajarkan penjumlahan bersusun. Sisi non kognitif melihat kesiapan belajar: perasaan anak di kelas, dukungan yang didapat di rumah, dan cara ia paling mudah menyerap penjelasan. Keduanya dijalankan di awal, hasilnya dibaca bersama, lalu dipakai untuk mengatur kelompok dan bahan belajar.
Bagian asesmen diagnostik yang paling sering berhenti justru setelahnya. Lembar terisi, diskor, dimasukkan ke map, lalu tidak dibuka lagi. Pekerjaan tersulit bukan menulis soal, melainkan memutuskan siapa mengerjakan apa pada pertemuan berikutnya dan bagaimana caranya tanpa menambah jam pelajaran.

Apa yang Dimaksud Asesmen Diagnostik
Asesmen diagnostik adalah pemeriksaan awal untuk mengetahui titik berangkat peserta didik pada suatu kompetensi. Hasilnya tidak dipakai untuk nilai rapor dan tidak menentukan kenaikan kelas. Fungsinya satu: memberi dasar bagi guru untuk memilih materi, urutan penjelasan, dan bentuk bantuan yang sesuai.
Karena itu, pertanyaan pemandu asesmen diagnostik bukan siapa yang nilainya paling tinggi, melainkan bagian mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang perlu diajarkan ulang. Dua anak bisa memperoleh skor yang sama dengan kesulitan yang berbeda. Yang satu salah karena belum hafal fakta perkalian, yang lain salah karena keliru membaca maksud soal. Skor yang sama menuntut tindak lanjut yang berbeda.
Perbedaan ini yang membuat hasil asesmen diagnostik jarang berguna kalau hanya berhenti pada angka. Yang dipakai guru di kelas adalah keterangan tentang jenis kesalahan, bukan peringkat.
Asesmen Diagnostik Kognitif: Mengukur Prasyarat, Bukan Hafalan
Bagian kognitif memeriksa apakah anak memiliki pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengikuti topik berikutnya. Kalau topiknya penjumlahan bersusun, yang diuji bukan penjumlahan bersusun itu sendiri, melainkan nilai tempat dan penjumlahan dasar. Menguji materi yang belum diajarkan hanya akan menghasilkan satu kesimpulan yang tidak bisa dipakai: semua anak belum bisa.
Satu Soal Menguji Satu Kemampuan
Soal asesmen diagnostik sebaiknya tidak menumpuk beberapa kemampuan dalam satu nomor. Kalau satu butir meminta anak membaca cerita, menghitung, lalu menjelaskan alasan, guru tidak akan tahu bagian mana yang gagal. Pisahkan kemampuannya: satu nomor untuk membaca bilangan, satu nomor untuk penjumlahan tanpa teknik menyimpan, satu nomor untuk penjumlahan dengan teknik menyimpan.
Enam sampai Sepuluh Butir Sudah Cukup
Asesmen diagnostik bukan ujian akhir semester. Untuk satu tujuan pembelajaran, enam sampai sepuluh butir sudah memberi gambaran yang memadai, terutama bila butir disusun berjenjang dari mudah ke sulit. Waktu pengerjaan lima belas sampai dua puluh menit. Lebih dari itu, anak yang lambat akan kehabisan waktu bukan karena tidak paham, melainkan karena lelah.
Susunan berjenjang pada asesmen diagnostik juga menunjukkan di mana seorang anak berhenti. Anak yang benar pada empat butir pertama lalu salah pada butir berikutnya memberi keterangan yang lebih jelas daripada anak yang salah pada semua butir sekaligus.
Contoh kerangka butir untuk kelas tiga pada topik penjumlahan dua angka:
- Menuliskan nama bilangan 147.
- Mengurutkan 98, 109, dan 190 dari yang terkecil.
- Menghitung 46 + 23 tanpa teknik menyimpan.
- Menghitung 46 + 38 dengan teknik menyimpan.
- Menyelesaikan soal cerita satu langkah yang memuat penjumlahan.
- Menjelaskan cara yang dipakai untuk menjawab butir sebelumnya.
Enam butir itu cukup untuk memisahkan anak yang belum menguasai nilai tempat dari anak yang sudah lancar menghitung tetapi masih goyah ketika angkanya muncul di dalam cerita.
Kelas Awal: Butir Dibacakan Satu per Satu
Di kelas satu dan dua, membaca soal sudah menjadi beban tersendiri. Kalau butirnya ditulis panjang, yang terukur adalah kemampuan membaca, bukan kemampuan berhitung. Bacakan butir satu per satu, beri waktu anak menuliskan jawaban, lalu catat siapa yang meminta instruksi diulang. Catatan itu sendiri sudah informasi berguna untuk pertemuan berikutnya.
Asesmen Diagnostik Non Kognitif: Yang Ditanyakan dan yang Tidak
Bagian ini mengumpulkan keterangan tentang kondisi anak ketika belajar, bukan tentang kemampuan akademiknya. Gunanya agar guru tahu kapan perlu menurunkan tempo, kapan anak lebih baik bekerja berpasangan, dan hal apa yang sebaiknya tidak dikerjakan di depan kelas.
Tiga Wilayah yang Perlu Dipetakan
- Kesiapan: bagaimana perasaan anak saat masuk kelas, apakah ia cukup tidur, apakah ada hal di rumah yang membuatnya sulit berkonsentrasi.
- Dukungan belajar: siapa yang menemani belajar di rumah, apakah ada waktu dan tempat tetap, apakah ada orang dewasa yang bisa ditanya ketika tugas terasa sulit.
- Cara belajar: apakah anak lebih mudah memahami lewat gambar, penjelasan lisan, atau kegiatan yang dikerjakan dengan tangan.
Tiga wilayah itu sudah cukup. Pertanyaan tentang penghasilan orang tua, jumlah kendaraan, atau kepemilikan barang elektronik tidak banyak membantu guru mengajar, dan berisiko membuat anak merasa keluarganya sedang dinilai.
Bertanya Tanpa Terasa Memeriksa
Pertanyaan tertutup seperti apakah kamu nyaman belajar di kelas hampir selalu dijawab nyaman. Ganti dengan pertanyaan yang meminta cerita: bagian pelajaran mana yang paling membosankan minggu ini, atau kalau ada tugas yang sulit kamu biasanya minta bantuan siapa. Jawaban bercerita lebih sukar dibuat-buat dan lebih mudah ditindaklanjuti.
Untuk kelas awal, cara yang lebih aman adalah bertanya sambil bekerja. Guru berkeliling saat anak menggambar atau menyusun balok, lalu bertanya singkat. Anak menjawab tanpa merasa sedang diwawancarai di depan kelas, dan guru tetap pulang dengan catatan.
Kapan Asesmen Diagnostik Dijalankan
Waktu pelaksanaan menentukan bentuk instrumennya. Asesmen di awal tahun tidak sama dengan asesmen sebelum satu topik baru. Tabel berikut memetakan situasi yang paling sering dihadapi.
Situasi | Yang dijalankan | Bentuk paling praktis | Waktu |
|---|---|---|---|
Awal tahun ajaran atau kelas baru | Kognitif dan non kognitif | Delapan butir kognitif dan lima pertanyaan non kognitif | Satu pertemuan |
Sebelum topik yang bergantung pada materi lama | Kognitif saja | Empat sampai enam butir prasyarat | 10-15 menit di awal pertemuan |
Setelah libur panjang | Kognitif ringan | Lima butir campuran dari materi terakhir | Sekitar 10 menit |
Ada anak yang tampak tidak mengikuti pelajaran | Non kognitif lebih dulu | Percakapan empat mata dan observasi dua hari | Di luar jam pelajaran |
Akan membentuk kelompok belajar | Keduanya, tanpa tes baru | Ringkasan hasil yang sudah ada | Tanpa tambahan jam |
Kalau data sudah ada, jangan mengulang tes hanya karena akan membentuk kelompok. Mengulang asesmen tanpa perubahan kegiatan di antaranya hanya menambah pekerjaan administrasi dan membuat anak bosan.
Menyusun Lembar Kognitif dalam Satu Jam
Kerangkanya sederhana: tentukan kemampuan prasyarat, baru tulis butirnya. Urutan berikut bisa diikuti tanpa rapat tim.
- Tulis satu kalimat tujuan. Misalnya: anak dapat menjumlahkan dua bilangan dua angka dengan teknik menyimpan.
- Pecah menjadi kemampuan yang lebih kecil: membaca nilai tempat, menjumlah tanpa menyimpan, memahami kapan menyimpan.
- Tulis satu butir untuk setiap kemampuan kecil. Jangan lebih dari satu butir per kemampuan pada asesmen awal.
- Urutkan dari yang paling mudah, supaya titik berhenti anak terlihat.
- Tulis kunci jawaban sekaligus kemungkinan kesalahan yang muncul. Dua kolom sudah cukup.
- Cetak dan kerjakan sendiri sebelum dibagikan. Butir yang membingungkan guru biasanya juga membingungkan anak.
Langkah kelima paling sering dilewati, padahal paling berguna saat mengoreksi. Menuliskan kemungkinan kesalahan sebelum melihat jawaban anak membuat guru lebih cepat mengenali pola, misalnya banyak anak menulis 46 + 38 = 74 karena lupa menambahkan simpanan.
Ambang Batas yang Bisa Dijelaskan
Tetapkan batas sebelum hasilnya dilihat, bukan sesudahnya. Contoh yang bisa dipakai: benar pada butir 1-3 berarti prasyarat aman; benar pada butir 4 berarti siap mengikuti materi baru dengan satu contoh tambahan; salah pada butir 1-2 berarti perlu kegiatan penguatan nilai tempat lebih dulu. Batas yang ditetapkan di depan menjaga keputusan tetap sama untuk semua anak, termasuk anak yang gurunya sudah kenal baik.
Contoh Isi Lembar Non Kognitif
Lembar non kognitif tidak perlu panjang. Lima pertanyaan dengan jawaban singkat biasanya lebih banyak dipakai daripada dua puluh pertanyaan yang membuat anak mengisi asal-asalan.
- Bagian pelajaran mana yang paling kamu tunggu minggu ini?
- Kalau ada tugas yang tidak kamu pahami, apa yang biasanya kamu lakukan?
- Di rumah, siapa yang biasanya menemanimu belajar?
- Kamu lebih mudah paham kalau guru menjelaskan sambil menggambar, bercerita, atau memberi kegiatan yang dikerjakan dengan tangan?
- Apa satu hal yang membuatmu sulit belajar di kelas?
Pertanyaan keempat jangan dijadikan label permanen. Anak bisa menjawab sambil menggambar bukan karena cara belajarnya terkunci di sana, tetapi karena pelajaran minggu itu memang banyak gambarnya. Pakai jawabannya untuk memilih cara menjelaskan pada topik berikutnya, bukan sebagai sifat yang menempel sepanjang tahun.
Tiga Pilihan untuk Kelas Awal
Untuk anak yang belum lancar menulis, sediakan tiga pilihan bergambar: satu untuk mudah, satu untuk biasa, satu untuk sulit. Anak melingkari pilihannya, guru menuliskan satu kalimat di sebelahnya, misalnya memilih sulit pada hitungan tetapi mudah pada bacaan. Satu kalimat itu lebih berguna daripada angka, karena langsung menunjuk bagian mana yang perlu didekati.
Membaca Hasil: Tiga Kelompok, Bukan Tiga Peringkat
Setelah dikoreksi, hasil paling mudah dibaca dengan membagi anak ke tiga kelompok: sudah menguasai prasyarat, menguasai sebagian, dan belum menguasai. Pembagian ini bukan peringkat dan tidak perlu diumumkan. Fungsinya hanya menentukan besar bantuan pada pertemuan berikutnya.
Kelompok | Ciri pada lembar | Tindakan pertemuan berikutnya | Yang dicatat guru |
|---|---|---|---|
Sudah menguasai | Benar pada semua butir prasyarat dan butir inti | Mulai materi baru, beri satu soal setingkat lebih sulit | Tidak perlu bantuan tambahan |
Menguasai sebagian | Benar pada prasyarat, salah pada butir inti | Penjelasan ulang 10 menit dan latihan terbimbing | Butir yang salah dan jenis kesalahannya |
Belum menguasai | Salah pada satu atau lebih butir prasyarat | Penguatan prasyarat dengan alat bantu konkret | Kemampuan yang belum dikuasai, bukan nilai |
Kolom terakhir yang paling sering kosong, padahal itulah yang dibuka saat menyusun pertemuan berikutnya. Menulis belum bisa nilai tempat jauh lebih berguna daripada menulis nilai 40.
Kelompok yang Berubah, Bukan Kelompok yang Menetap
Kelompok ini sebaiknya tidak bertahan sepanjang semester. Setelah dua atau tiga pertemuan, minta anak mengerjakan satu dua butir yang sama. Anak yang sudah benar dipindahkan, anak yang masih salah tetap didampingi. Tanpa pemeriksaan ulang, kelompok berubah menjadi pembeda yang menetap, dan anak di kelompok bawah kehilangan kesempatan mencoba materi yang lebih sulit.
Tindak Lanjut yang Bisa Dijalankan Besok
Tindak lanjut tidak harus berupa jam pelajaran tambahan. Tiga hal berikut bisa dikerjakan tanpa mengubah jadwal.
Bahan Berbeda, Tujuan Sama
Kelompok yang belum menguasai prasyarat bekerja dengan benda konkret atau lembar bergambar; kelompok yang sudah menguasai mengerjakan soal cerita dengan angka lebih besar. Tujuannya tetap satu, yaitu memahami kapan teknik menyimpan dipakai. Bahan berbeda bukan berarti standar berbeda.
Untuk latihan mandiri, lembar yang bisa dikerjakan tanpa penjelasan panjang lebih sering terpakai. Contohnya LKPD word search untuk kelas awal, yang cukup dibagikan sebagai kegiatan pembuka sementara guru mendampingi satu kelompok kecil. Kalau yang dicari justru pilihan alat peraga untuk kelompok lain, catatan tentang media belajar SD membahas pemilihan bahan yang tidak menuntut biaya besar.
Tutor Sebaya dengan Aturan yang Jelas
Memasangkan anak yang sudah menguasai dengan anak yang belum bisa berjalan, asalkan perannya ditentukan. Yang satu membaca instruksi, yang lain mengerjakan. Tanpa aturan seperti itu, anak yang lebih mampu cenderung mengambil alih pekerjaan. Batasi sepuluh menit, lalu periksa hasil keduanya.
Mencatat Hasil supaya Tidak Hilang
Simpan hasil dalam satu halaman per kelas: nama, kemampuan yang diuji, kelompok, dan catatan singkat. Satu halaman jauh lebih mudah dibuka lagi daripada satu berkas per anak. Tempel di dekat meja guru selama dua minggu, lalu pindahkan ke map setelah kelompok diperbarui.
Satu Halaman per Kelas
Isi kolomnya cukup empat: nama, kemampuan, kelompok, catatan. Jangan menambah kolom nilai total, karena angka itu tidak dipakai lagi setelah kelompok terbentuk. Kalau sekolah meminta bukti pelaksanaan, lampirkan lembar yang sudah diisi beserta ringkasan satu halaman.
Bila ringkasan ini akan dipakai saat menyusun administrasi, salin ke catatan perangkat mengajar. Bagian mana yang perlu dilengkapi, termasuk asesmen, dibahas di artikel perangkat mengajar kurikulum merdeka.

Kesalahan yang Sering Terjadi
- Menguji materi yang belum diajarkan. Kalau semua anak salah, hasilnya tidak memberi keterangan apa pun.
- Berhenti pada angka. Nilai tanpa catatan jenis kesalahan tidak menuntun tindakan di kelas.
- Menanyakan hal yang terlalu pribadi. Rincian penghasilan atau kondisi keluarga jarang diperlukan untuk mengatur pembelajaran.
- Menjalankan asesmen non kognitif di depan kelas. Anak akan menjawab yang terdengar baik, bukan yang sebenarnya.
- Membuat instrumen terlalu panjang. Dua puluh butir untuk satu tujuan hanya menghabiskan waktu.
- Mengumumkan pembagian kelompok. Kelompok internal yang dibacakan akan berubah menjadi label.
Satu kesalahan lain yang jarang disebut: menunda asesmen sampai instrumennya sempurna. Lembar delapan butir yang dijalankan minggu ini lebih berguna daripada instrumen dua halaman yang masih berupa rancangan.
Penyesuaian di SMP dan SMA
Di jenjang ini asesmen biasanya dipegang guru mata pelajaran, bukan wali kelas. Karena itu instrumen disusun per mata pelajaran dan hanya memuat prasyarat yang benar-benar dipakai pada topik berikutnya.
Satu Mata Pelajaran, Satu Instrumen
Guru yang akan membahas pengukuran cukup menguji pemahaman satuan dan cara membaca skala, tidak perlu mengulang seluruh materi semester lalu. Semakin sempit cakupannya, semakin cepat hasilnya dibaca dan semakin mungkin ditindaklanjuti pada pertemuan berikutnya.
Lima Belas Menit di Awal Pertemuan
Untuk kelas besar dengan jadwal padat, bagian kognitif bisa berupa lima butir yang dikerjakan di awal pertemuan. Kumpulkan, periksa cepat dengan kunci, lalu putuskan apakah topik dilanjutkan atau perlu satu pertemuan penguatan. Bagian non kognitif lebih praktis lewat percakapan saat kerja kelompok, karena angket panjang di jenjang ini sering diisi tanpa dibaca.
Melibatkan Orang Tua Tanpa Melabeli Anak
Hasil asesmen boleh dibicarakan dengan orang tua, tetapi kalimatnya perlu dijaga. Kalimat anak Anda belum bisa berhitung menutup percakapan. Kalimat anak masih perlu latihan menulis bilangan dua angka, dan di rumah cukup sepuluh menit sehari memberi sesuatu yang bisa dikerjakan.
Sampaikan tiga hal saja: satu kemampuan yang sedang dilatih, satu contoh kegiatan di rumah, dan perkiraan waktu yang dibutuhkan. Hindari menyebut kelompok tempat anak berada. Orang tua yang tahu langkah kecilnya lebih mungkin membantu daripada orang tua yang hanya tahu anaknya tertinggal.
Kapan Asesmen Diulang
Ulangi setelah dua sampai empat minggu bila ada kegiatan penguatan, atau sebelum topik baru yang bergantung pada kemampuan yang sama. Yang diulang cukup butir yang sebelumnya salah, bukan seluruh lembar. Membandingkan dua hasil pada butir yang sama memberi keterangan lebih jelas daripada membandingkan dua nilai total.
Kalau hasilnya tidak berubah meski penguatan sudah diberikan, jangan langsung menambah jumlah latihan. Periksa dulu bentuk bantuannya: mungkin anak belum pernah memegang alat peraga, atau instruksinya terlalu panjang untuk dibaca sendiri. Mengganti cara mengajar sering lebih cepat daripada menambah soal.
Kalau Minggu Ini Harus Mulai
Urutan berikut cukup untuk satu kelas dan satu tujuan pembelajaran. Jangan menunggu semua mata pelajaran siap.
- Pilih satu kelas dan satu tujuan pembelajaran.
- Tulis enam butir prasyarat, urut dari mudah ke sulit, lengkap dengan kemungkinan jawaban salah.
- Siapkan lima pertanyaan non kognitif, termasuk satu pertanyaan tentang cara belajar yang disukai.
- Jalankan dalam satu pertemuan: sekitar 20 menit untuk kognitif dan 10 menit untuk non kognitif.
- Bagi tiga kelompok, tulis satu tindakan untuk masing-masing, lalu jalankan pada pertemuan berikutnya.
- Simpan satu halaman catatan dan jadwalkan pemeriksaan ulang dua minggu kemudian.
Satu kelas sudah cukup untuk melihat apakah instrumennya bekerja. Setelah itu butir yang membingungkan diperbaiki, baru dipakai di kelas lain. Dengan cara ini, asesmen tidak menjadi proyek akhir semester yang dikerjakan tergesa-gesa.
Bagi yang membutuhkan bahan latihan siap cetak untuk kegiatan mandiri setelah pengelompokan, ada paket LKPD cari kata berisi lembar aktivitas dan kunci jawaban dalam format PDF A4. Cocok untuk mengisi waktu sementara guru mendampingi kelompok yang perlu penjelasan ulang.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah asesmen diagnostik masuk nilai rapor?
Tidak. Hasilnya dipakai untuk mengatur pembelajaran, bukan menilai capaian akhir. Kalau sekolah meminta bukti administrasi, simpan lembar yang sudah diisi beserta ringkasan satu halaman sebagai dokumen pendukung.
Berapa lama waktu pelaksanaannya?
Untuk satu tujuan pembelajaran, bagian kognitif cukup 15-20 menit dan bagian non kognitif sekitar 10 menit. Kalau lebih lama, jumlah butirnya yang perlu dipangkas, bukan waktunya yang ditambah.
Haruskah dijalankan di minggu pertama sekolah?
Bisa juga setelah itu, asalkan sebelum materi baru yang bergantung pada prasyarat dimulai. Kelas yang baru terbentuk tetap perlu pemeriksaan awal karena daftar nilai kelas sebelumnya belum tentu menggambarkan kemampuan anak sekarang.
Bagaimana kalau hampir semua anak salah pada semua butir?
Periksa lebih dulu apakah soalnya terlalu sulit atau instruksinya tidak dipahami. Kalau prasyarat memang belum dikuasai, ajarkan prasyarat itu lebih dulu. Mengulang tes dengan soal yang sama tidak akan mengubah hasil.
Bisakah asesmen non kognitif memakai angket daring?
Bisa untuk jenjang atas, dengan catatan tingkat pengembaliannya diperiksa. Untuk kelas awal, percakapan singkat saat anak bekerja biasanya memberi keterangan yang lebih jujur daripada angket yang diisi di rumah.
Apakah hasilnya boleh dibagikan kepada anak?
Boleh, dalam bentuk kemampuan yang sedang dilatih, bukan kelompok atau skor. Anak perlu tahu langkah berikutnya, bukan urutannya di dalam kelas.
Penutup
Asesmen diagnostik yang berguna biasanya terlihat sederhana: satu lembar pendek, satu halaman catatan, dan satu keputusan untuk pertemuan berikutnya. Yang membuatnya bekerja bukan kelengkapan instrumen, melainkan kebiasaan membaca hasilnya sebelum menyusun kegiatan. Kalau minggu ini hanya sempat menyiapkan enam butir untuk satu kelas, itu sudah cukup untuk memulai.
Panduan resmi Pembelajaran dan Asesmen dari Kemendikdasmen menempatkan asesmen diagnostik sebagai bagian dari siklus perencanaan, bukan kegiatan terpisah. Bagian prinsip asesmen dan pelaporan hasil belajar di dokumen itu bisa dipakai sebagai rujukan saat menyusun laporan ke sekolah.







